Setiap orang punya mesin waktunya sendiri. Bagiku, salah satu mesin waktu terbaik adalah kenangan. Cukup dengan memejamkan mata, aku bisa kembali ke tanggal 14 Maret 2015, ke sebuah tanah lapang yang riuh oleh semangat kepanduan di Bumi Perkemahan Paneki, Pombewe, Kabupaten Sigi.

Hari itu, kami, Pasukan Khusus (Pasus) MTs Negeri 3 Parigi, memulai sebuah petualangan yang kelak akan terpatri begitu dalam. Dengan doa dan restu dari kepala madrasah, kami dilepas untuk mengikuti Kemah Temu Penggalang Penegak se-Sulawesi Tengah. Di bawah bimbingan Kak Amiludin dan Kak Patta Ranti, kami berangkat dengan dada penuh semangat. Tiba di lokasi, pemandangan tenda-tenda yang mulai berdiri kokoh menyambut kami. Tanpa menunggu lama, kami pun mendirikan "istana" kami sendiri, siap menyambut semua kegiatan yang telah menanti.
Malam pertama di perkemahan selalu magis. Api unggun belum menyala, tapi kehangatan sudah terasa dari lingkaran kami. Di situlah pesona sejati berkemah dimulai. Ditemani alunan gitar seadanya, kami bernyanyi bersama, tertawa lepas, dan tentu saja, berkenalan dengan teman-teman dari gugus depan (gudep) sebelah.

Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya lucu sekali. Saat itu, dunia belum sekencang sekarang. WhatsApp bahkan belum menjadi primadona. Jangankan itu, memiliki ponsel pribadi saja adalah sebuah kemewahan. Puncak teknologi komunikasi kami saat itu adalah bertukar nomor ponsel orang tua agar bisa saling mengirim SMS. "Nanti SMS-an, ya!" menjadi kalimat sakti untuk menjaga pertemanan yang baru terjalin. Wah, betapa sederhananya kebahagiaan kala itu.
Lupa Hitungan Langkah dan Kejeniusan Sang Pratama
Keesokan paginya, saat mentari pagi bersinar cerah, adrenalin kompetisi mulai terpompa. Pasukan kami bersiap mengikuti lomba. Komando ada di tangan Pratama kami, Kak Yudhi. Mungkin beberapa dari kalian ada yang mengenalnya, sekarang beliau adalah seorang abdi negara, anggota Brimob yang bertugas di Papua. Dulu, perawakannya kecil dan sangat lincah. Soal peta, kompas, dan baris-berbaris, dialah jagonya.
Dalam lomba mencari jejak, aku mendapat tugas krusial: menghitung jarak dari satu titik ke titik lain menggunakan langkah kaki. Dengan penuh konsentrasi, aku melangkah sambil berhitung dalam hati. Namun, setibanya di titik henti, sebuah kepanikan kecil melanda. Angka terakhir yang kuhitung lenyap begitu saja dari ingatan. Aku lupa!
Di tengah kebingunganku, Kak Yudhi menunjukkan ketenangannya yang jenaka. Alih-alih memarahiku, dia justru berjalan kembali beberapa meter, lalu dengan gaya seperti seorang detektif, dia menunjuk-nunjuk bekas jejak langkahku sambil menghitungnya dengan jari. Gerakannya lebih mirip mengira-ngira daripada menghitung ulang, tapi kami percaya saja. Ajaibnya? Manuver "asal tunjuk" itu membawa kami meraih Juara 2. Sampai sekarang, kalau mengingatnya, aku hanya bisa tertawa.
Cinta Lokasi dan Piring Kotor

Tentu saja, perkemahan tidak akan lengkap tanpa bumbu-bumbu cerita remaja. "Cinlok" alias cinta lokasi adalah fenomena yang tak terhindarkan. Aku ingat betul, ada beberapa temanku yang terpikat pesona anggota gudep sebelah. Pemandangan paling menggelikan adalah ketika salah satu dari mereka dengan semangat membantu mencuci tumpukan piring kotor di tenda gebetannya, padahal di tenda kami sendiri, piring-piring kotor sudah antre untuk dibersihkan. Cinta memang terkadang membutakan, bahkan untuk urusan piring kotor sekalipun.

Petualangan kami tidak berhenti saat lomba usai. Kakak-kakak pembina mengajak kami berkeliling kota sebagai hadiah. Kami diajak jalan-jalan ke mal, mengunjungi Tugu Perdamaian Nosarara Nosabatutu yang megah, hingga merasakan segarnya air di permandian Taipa Beach. Momen-momen itu menjadi penutup yang sempurna untuk sebuah pengalaman yang luar biasa.


Kini, bertahun-tahun telah berlalu. Kak Yudhi mengabdi untuk negara, dan kami semua telah menempuh jalan hidup masing-masing. Namun, kenangan di Paneki tetap hidup. Itu bukan sekadar cerita tentang menang atau kalah dalam lomba, tetapi tentang persahabatan, tawa, keluguan, dan momen-momen kecil yang membentuk kami.
Sungguh, itu adalah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali memutar waktu atau berteleportasi kembali ke masa itu, hanya untuk merasakan kembali semua keseruan itu sekali lagi.

Komentar (0)
Jadilah orang pertama yang berkomentar.